Selasa, 06 Januari 2015

GURU Untuk PENDIDIK TRANSFORMASIONAL ABAD 21
(Kajian Pengembangan Profesionalisme Guru)

Oleh: Susan N H Jacobus
(Bag. 4)

GURU Untuk Pendidik Transformasional
Pada poin ini, saya menghadirkan ide guru transformasional, sekaligus Landasan konseptual pengembangan Guru Profesional Abad 21 yang Transformasional . Guru transformasional adalah guru yang mampu untuk memberikan perubahan menyeluruh demi tercapai tujuan pendidikan nasional. GURU  didasarkan hasil perenungan dan kajian pustaka, termasuk hasil dari refleksi pemikiran-pemikiran besar para tokoh pendidikan, dan teori-teori sehingga dirumuskan dalam satu kata yaitu GURU (Giving, Unlimited, Regeneration, Uniquely) yang mewakili guru transformasional indonesia berdasarkan kearifan lokal dan falsafah nasional.
a.      Giving:
Giving dalam bahasa Indonesia artinya memberi. Seorang guru adalah sosok yang wajib memberi, karena demikianlah tugas guru yang sesungguhnya.  Apa yang harus diberikan guru?Memberikan diri secara total dalam profesinya sebagai seorang guru.(Totality as a Teacher)     (Passion)
Passion yang dimaksud penulis adalah keinginan besar untuk bekerja. Menurut Rene passion sedikit berbeda dengan hobi, “Passion bukanlah segala sesuatu yang kuasai, namun yang kita cintai. Passion adalah salah satu unsur karir. Karir haruslah melibatkan passion, tujuan hidup, values, ketercapaian, dan kebahagiaan.” Seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, sehingga seorang guru harus dapat memahami benar hakikat ia bekerja, apakah sekedar untuk memperoleh gaji dari pemerintah atau benar-benar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Apakah mendidik generasi bangsa merupakan “passion” atau sekedar “pekerjaan”?
Guru harus memberi diri bukan sekedar sebagai rutinitas pekerjaan tetapi memberi hati, tenaga dan pikirannya guna menghasilkan siswa-siwa yang tak hanya cerdas, berhati mulia, tetapi penuh kasih sayang tanpa kekerasan dan memiliki  critical mass. Guru yang memiliki passion adalah guru yang sadar bahwa tugasnya sebagai guru bukan sebatas pekerjaan tapi esensi guru yang sesungguhnya.
·                               Memberi Teladan (Being a Model)
Guru harus menjadi teladan bagi siswanya. Banyak kasus siswa tidak mendengarkan nasihat guru karena siswa memperhatikan bahwa gurunya pun tidak melakukan apa yang disampaikan pada siswa. Jika guru menginginkan siswa-siswa tidak terlambat ke sekolah, maka guru harus menjadikan dirinya sebagai contoh, datang tepat waktu ke sekolah, dan memulai jam pelajaran tepat waktu.
Proses transfer keteladanan bisa berlangsung di kelas saat proses belajar mengajar. Jika guru ingin mengajarakan siswa membaca puisi yang benar, maka guru harus mencontohkan di depan kelas.
Apa yang guru lakukan diperhatikan oleh siswanya. Hal ini tersirat dalam bahasa Jawa bahwa guru digugu lan ditiru (dipatuhi dan ditiru/diikuti), dikukuhkan oleh teori Modeling oleh Albert Bandura. Albert Bandura dan Richard Walters ( 1959, 1963 ) telah melakukan eksperimen pada anak – anak yang juga berkenaan dengan peniruan. Hasil eksperimen mereka mendapati, bahwa peniruan dapat berlaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus menerus. Proses belajar semacam ini disebut “observational learning” atau pembelajaran melalui pengamatan. Bandura kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial diperbaiki memandang teori pembelajaran sosial yang sebelumnya hanya mementingkan perilaku tanpa mempertimbangan aspek mental seseorang.
Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri(kognitif) dan lingkungan. pandangan ini menjelaskan, beliau telah mengemukakan teori pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah menjalankan kajian bersama Walter terhadap perlakuan anak-anak apabila mereka menonton orang dewasa memukul, mengetuk dengan palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam video. Setelah menonton video anak-anak ini diarah bermain di kamar permainan dan terdapat patung seperti yang ditayangkan dalam video. Setelah anak-anak tersebut melihat patung tersebut,mereka meniru aksi-aksi yang dilakukan oleh orang yang mereka tonton dalam video.
Berdasarkan teori ini terdapat beberapa cara peniruan yaitu meniru secara langsung. Contohnya guru membuat demostrasi cara membuat kapal terbang kertas dan pelajar meniru secara langsung. Seterusnya proses peniruan melalui contoh tingkah laku. Contohnya anak-anak meniru tingkah laku bersorak dilapangan, jadi tingkah laku bersorak merupakan contoh perilaku di lapangan. Keadaan sebaliknya jika anak-anak bersorak di dalam kelas sewaktu guru mengajar,semestinya guru akan memarahi dan memberi tahu tingkahlaku yang dilakukan tidak dibenarkan dalam keadaan tersebut, jadi tingkah laku tersebut menjadi contoh perilaku dalam situasi tersebut.
Proses peniruan yang seterusnya ialah elisitasi. Proses ini timbul apabila seseorang melihat perubahan pada orang lain. Contohnya seorang anak-anak melihat temannya melukis bunga dan timbul keinginan dalam diri anak-anak tersebut untuk melukis bunga. Oleh karena itu, peniruan berlaku apabila anak-anak tersebut melihat temannya melukis bunga.
Berdasarkan uraian diatas, maka saya mengambil simpulan bahwa penting untuk memberi teladan yang baik bagi siswa sehingga mereka akan meniru dan mengikuti yang baik dari gurunya. Oleh sebab itu guru juga punya tanggungjawab pribadi untuk menjaga tingkah laku dan tutur katanya di depan siswa-siswanya, termasuk tidak melakukan tindak kekerasan pada siswa, sehingga mereka juga tercegah dari melakukan tindak kekerasan pada temannya dan lingkunganya.
·                               Memberi ilmu kepada para siswa. (Transfering Knowledge to the Student)
Ini adalah tugas guru, yaitu membagikan ilmu untuk siswa-siswanya. Ilmu yang dikuasai guru secara teori dan praktek ditransfer ke siswa. Penting bagi guru untuk menguasai materi secara mendalam sehingga siswa benar-benar tahu apa yang dipelajari. Ilmu yang ditransfer guru diantaranya sains, sosial, bahasa, budaya, nilai-nilai, moral, etika, dan seni, yang dituangkan dalam mata pelajaran di sekolah.
Penguasaan materi merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap guru ketika memulai pelajaran. Guru yang ideal harus memiliki pengetahuan luar biasa mengenai materi yang dibawanya. Pengetahuan yang cukup akan memudahkan guru untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan siswa. Ki Hajar Dewantoro mengatakan bahwa, pengajaran oleh guru tidak lain adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan, serta juga memberi kecakapan kepada anak-anak yang keduanya berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin.
Untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, maka guru benar-benar harus memberikan setiap ilmu yang dimilikinya, bahkan terus memperkaya diri dengan pengetahuan baru, sehingga siswa selalu mendapatkan pengetahuan yang mendalam, dan fresh atau pengetahuan yang relevan.
·                                Memberikan Kemerdekaan bagi para siswa. (Giving Freedom for the Student)
Kemerdekaan yang dimaksud adalah menurut Ki Hajar. Merdeka secara fisik, mental, dan kerohanian. Kemerdekaan pribadi yang dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagian, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam hati manusia. Karena hal inilah yang dibutuhkan dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cinta kasih, dan pengharagaan terhadap masing-masing manusia. Hal yang sama dicetuskan oleh Francois Rabelais dan Guillaune Bude mengajarkan pendidikan kemerdekaan (kebebasan) tetapi menganjurkan untuk melayani, mencintai, dan takut kepada Tuhan.
·                               Memberikan Ketenangan Batin bagi siswa. (Giving Calmness for the Student)
Ketenangan dan kenyamanan batin seorang siswa akan membuatnya belajar lebih baik. Hal itu akan tercipta saat guru dengan sengaja memaksa, menekan siswa atau melakukan kekerasan secara verbal maupun fisik. Momong, Among, Ngemong, haruslah menjadi dasar pendidikan yang harus dimaknai dan dilakukan oleh guru. Guru harus menjaga kehidupan batin siswa, caranya adalah dengan tidak memaksa siswa; walaupun hanya sekedar menuntun atau memimpin hal itu kadang tidak perlu. Guru hanya diharuskan mencampuri kehidupan si siswa, jika siswa tersebut di “jalan” yang salah.
b.      Unlimited:
Tanpa batas” atau Unlimited, merupakan kata yang harus dimaknai secara mendalam oleh para guru. Seorang guru harus “Tanpa Batas” atau Unlimited. Tanpa batas yang dimaksud adalah:
·                                Transfer Kasih Sayang tanpa batas (Transforming Unlimited Affection)
Guru yang selalu tanpa lelah, tanpa mengeluh memberi kasih sayang bagi siswa-siswanya. Sehingga siswanya bisa tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih sayang terhadap semua orang.
·                                Percaya tanpa batas. (Unlimited Trust)
Percaya dan yakin bahwa siswa mampu mencapai cita-citanya dan menjadi yang terbaik sesuai bakat, minat, keunikan dan pengetahuannya. Guru percaya bahwa seorang siswa yang nakal atau kasar bisa berubah menjadi pribadi yang menyenangkan. Siswa yang malas bisa berubah menjadi rajin, guru harus terus mempercayai bahwa perubahan kearah yang lebih baik selalu bisa terjadi.
·                                 Sabar Tanpa Batas (Unlimited Patience)
Tanpa kesabaran, seorang guru tak akan pernah berhasil mendidik siswa-siswanya. Tetapi kesabaran yang tanpa batas sangat diperlukan oleh seorang guru ideal. Masing-masing siswa memiliki keunikan pridadi, guru harus menangani setiap siswa berdasarkan keunikan mereka, butuh kesabaran tanpa batas untuk menghadapi kepribadian mereka, karena untuk mengenali peserta didik butuh waktu yang lama, termasuk untuk mencari formula penanganan setiap siswa.
·                               Transfer Pengetahuan Tanpa Batas (Transforming Unlimited Knowledge)
Pengetahuan yang dimiliki guru harus sepenuhnya ditransfer pada siswa-siswanya, termasuk pengetahuan baru yang diperoleh guru. Tidak ada batasan berapa persen pengetahuan harus yang ditransfer untuk siswa, karena pengetahuan selalu dinamis, berkembangan sering waktu dan jaman. No Limit Study merupakan ide yang dikemukakan Prof. Dr. Noeng Muhadjir sejak tahun 80-an. Beliau menyatakan bahwa suatu perubahan sosial akan menjadikan pengetahuan seseorang tertinggal, oleh sebab itu setiap orang harus belajar. Kedua potensi adikodrati  bahwa otak manusia baru difungsikan 5 sampai 25 persen, sehingga upaya maksimalisasi kemampuan otak harus terus dilakukan. Hal ini akan terus meungkinkan seorang guru akan terus dibutuhkan dan tanpa batas mentransfer pengetahuannya bagi perserta didik.
c.       Regeneration (Kelahiran Kembali)
Salah satu tugas guru adalah menghasilkan generasi-generasi yang unggul secara akademik, keahlian, peka terhadap lingkungan, mampu memberi solusi bagi masalah pribadi maupun masalah di lingkungannya. Generasi yang dilahirkan dari seorang guru yang tranformasional akan melahirkan generasi-generasi seperti mereka begitu seterusnya. Bagaimana mewujudkan hal-hal tersebut?
·                   Altruism
Suatu sikap hidup yang lebih memetingkan kebahagian dan kesejahteraan orang lain,       daripada kesejahteraan diri sendiri, hal ini dikemukakan oleh Prof. Dr. Noeng Muhadjir. Menurutnya alturisme adalah hasil dari berkembangnya rasa bahagia karena mampu membahagiakan orang lain, tanpa mengabaikan kebahagian diri sendiri. Sikap hidup Alturisme harus dimiliki guru untuk melahirkan generasi baru yang tidak mementingkan diri sendiri.
·                   Creative
Akhir-akhir ini istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan. Sering pula, ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas, baik pada anak didik, pegawai negeri, maupun pada mereka yang berwiraswasta.
Apa sebetulnya kreativitas? Kreativitas biasanya diartikan  sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya. Misalnya orang yang pertama kali menemukan sepatu roda sebagai gabungan dari sepatu dan roda juga termasuk orang yang kreatif. Jadi disini kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antar unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak hubungannya.
Seorang anak kecil asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang bermacam-macam setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru bagi dirinya, karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal semacam itu. Anak ini adalah anak yang kreatif, berbeda dengan seorang anak yang hanya membangun sesuatu jika ada contohnya. Seorang ibu rumah tangga yang setiap kali dapat membuat kejutan bagi suami dan anak-ankanya dengan menghidangkan masakan yang merupakan resep baru hasil kreasinya sendiri, yaitu dengan cara membuat kombinasi baru dari bumbu-bumbu dapur, termasuk orang yang kreatif dalam bidangnya.
Demikian pula, seorang siswa SMA atas dasar bahan-bahan pelajaran yang diperolehnya pada mata pelajaran kimia, melakukan ekperimen di rumah dengan mencoba macam-macam variasi dalam pembuatan sabun mandi, variasi dalam bentuk, warna, aroma, atau komposisi bahan yang digunakan. Ia adalah siswa yang kreatif. Seorang siswa SMP dalam pelajaran bahasa Indonesia mampu membuat suatu karangan dengan judul yang diberikan oleh guru “Saya pada tahun 2000.” Karangan itu mencerminkan daya imajinasi yang hidup, dan gaya bahasanya berbeda dengan apa yang biasanya dibuat oleh siswa-siswa lain. Ia adalah siswa kreatif.
Jelaslah kreativitas dapat muncul dalam semua bidang kegiatan manusia, tidak terbatas dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, atau teknologi serta tidak terbatas pula pada tingkat usia, jenis kelamin, suku, bangsa, atau kebudayaan tertentu. Sampai saat ini perhatian kita terutama tertuju pada kreativitas sebagai suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku manusia. Kreativitas dapat pula kita lihat sebagai suatu proses dan mungkin inilah yang lebih esensial dan yang perlu dibina pada anak didik sejak  dini untuk bersibuk diri secara kreatif.
Kreativitas sebagai suatu proses memikirkan berbagai gagasan, dalam menghadapi suatu persoalan atau masalah, sebagai proses “bermain” dengan gagasan-gagasan atau unsur-unsur dalam pikiran, merupakan keasyikan yang menyenangkan dan penuh tantangan bagi siswa yang kreatif. Kreativitas dalam hal ini merupakan proses berpikir dimana siswa berusaha untuk menemukan hubungan-hubungan baru, mendapatkan jawaban, metoda atau cara baru dalam memecahkan suatu masalah. Bagi pendidikan yang terpenting bukanlah apa yang dihasilkan dari proses tersebut, tetapi keasyikan dan kesenangan siswa terlibat dalam proses ini.
Dalam situasi pendidikan, hendaknya tidak selalu hanya ditekankan produk yang dihasilkan. Proses bersibuk diri secara kreatif perlu juga mendapat penghargaan dari pendidik. Kita tidak perlu selalu mengharapkan produk-produk yang berguna dari kegiatan kreatifnya. Yang perlu dirangsang dan dipupuk adalah sikap dan minat untuk melibatkan diri dalam kegiatan kreatif.
Jika sikap minat ini sudah dipupuk sejak dini (sikap ingin tahu, minat untuk menyelidiki lingkungan atau bidang-bidang baru, dorongan untuk melakukan eksperimen, perasaan tertantang untuk menangani masalah-masalah yang rumit, dan untuk menemukan banyak kemungkinan pemecahan masalah), maka sikap mental ini akan dibawa terus sampai dewasa. Sikap mental ini akan menghasilkan ilmuwan, teknokrat, atau wiraswastawan yang mampu membangun baik diri sendiri maupun masyarakat dan negaranya.
Guru yang kreatif akan menjadikan siswa-siswanya kreatif. Sudah seharusnya kreatifitas menjadi hal penting yang wajib dimiliki seorang guru karena di era ini kreatifitas bukan lagi sebagai pilihan tetapi keharusan.
d.      Uniquely
Menurut kamus bahasa indonesia, Unik adalah tersendiri bentuk atau jenisnya; lain daripada yang lain dan tidak ada persamaan dengan yang lain. Jadi unik dapat dikatan sebagai sesuatu yang sangat spesial dan jarang dijumpai. Keunikan tersebut bisa berupa sifat, kekhususan, kekhansan, karakteristrik, maupun kesendirian.
Pada prinsipnya semua manusia adalah unik, demikian juga seorang guru. Setiap guru memiliki keunikan entah sifat, karakter, kemampuan, dan lain sebagainya. Harus diperhatikan bahwa keunikan masing-masing guru diharapkan membawa dampak positif (Positive Impact) bagi peserta didiknya. Menyadari bahwa guru adalah makhluk yang unik maka guru juga sepatutnya memperlakukan siswa-siswa berdasarkan keunikan masing-masing.
Seorang guru yang mengaplikasikan esensi GURU (Giving, Unlimited, Regeneration, Uniquely) diharapkan menjadi guru transformasional. Guru yang membawa perubahan bagi pendidikan di Indonesia, dan mencetak generasi abad 21 yang punya keahlian, peka terhadap lingkungan, cerdas, tidak melakukan kekerasan, berkarakter dan berintergritas dan mampu menjawab tantangan dimasa depan. Suatu hal yang paling penting adalah guru bukan lagi menjadi musuh para siswa tetapi menjadi sumber inspirasi hidup siswa-siswanya.

DAFTAR PUSTAKA
Arends, R, Kilcher, A. 2010. Teaching for Stedent Learning. New York: Routledge
Berry, B. 2011. Teaching 2030. New York:Teacher Collage Press.
Becker, J. F., 1989. Getting To Know You Inner Child. Journal Human Development, 7,5-9
Boyd, W. 1959. The History Of Western Education. London: Adam&Charles Black.
Dewantara, K. H. 2013. Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka Pendidikan. Yogyakarta: UST Tamansiswa.
Harahap,R.F. 21 November 2013. Jumlah Guru Berkualitas Masih Rendah. Diambil tanggal 11 Januari 2014 dari, http://kampus.okezone.com/read/2013/11/21/560/900607/jumlah-guru-berkualitas-masih-rendah.
Muhadjir, H. N. 2013. Psikologi Positif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Muhadjir, H. N. 2003. Ilmu Pendidikan Dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Murray, J.2014. Designing and Implementing Effective Professional Learning. Singapore: Sage
Semiawan, C, Munandar A. S., & Munandar, S. C. U. 1987. Memupuk Bakat Dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah. Jakarta:Gramedia
Williams, K. C. 2009. Elementary Classroom Management. USA:Sage
http://artikata.com/arti-355880-unik.html
http://pendidikan-full.blogspot.com/2013/12/ternyata-jumlah-guru-indonesia-berlebih.html
http://online-journal.unja.ac.id/index.php/humaniora/article/view/216
http://www.teachingquality.org/content/teaching-2030-what-we-must-do-our-students-and-our-public-schools%E2%80%A6now-and-future

http://makassar.tribunnews.com/2012/11/28/guru-psk-menghadapi-tahun-2030
               --------------------------------------SELESAI--------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar