Selasa, 06 Januari 2015

GURU Untuk PENDIDIK TRANSFORMASIONAL ABAD 21
(Kajian Pengembangan Profesionalisme Guru)
Oleh: Susan N H Jacobus
(Bag. 2)


Perkembangan Guru dan Pengajaran.
a.        Sosok Guru.
Guru (dari Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya "berat") adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.
Secara formal, guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal berstatus sarjana, dan telah memiliki ketetapan hukum yang sah sebagai guru berdasarkan undang-undang guru dan dosen yang berlaku di Indonesia disebut Guru di Indonesia.
Jumlah guru Indonesia berlebih. Saat ini, jumlah guru di Indonesia telah mencapai angka 2,92 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu maka rasio guru dan siswa menjadi 1:14. Berarti setiap guru hanya mengajar 14 siswa atau peserta didik. Rasio jumlah guru di Indonesia berbeda dengan negara-negar lain. Malaysia memiliki rasio 1:20, Jepang 1:32, Korea Selatan 1:30. Sedangkan untuk rasio rata-rata internasional adalah 1:32. Jika membandingkan rasio guru nasional dan international maka bisa dikatakan jumlah guru di Indonesia berlebih atau overload. Idealnya, rasio jumlah guru dan peserta didik pada kisaran angka 1:15 dan 1:32. Angka ini mendasarkan pada rasio yang berlaku secara internasional. Sehingga dengan rasio ideal seperti itu maka guru tidak banyak yang menganggur atau kekurangan jam mengajar. Jumlah guru di Indonesia yang 2,92 juta orang,  900.000-nya adalah guru honorer. Dan faktanya, sekitar 76% menumpuk di wilayah perkotaan (baik guru negeri maupun swasta). Kondisi tersebut membawa akibat di kota kelebihan guru, sedangkan di desa dan wilayah terpencil terjadi kekurangan guru.
Guna menangani ketimpangan jumlah guru di Indonesia ini, pemerintah semestinya melaksanakan program penempatan dan pemerataan guru untuk setiap wilayah. Kebijakan yang barangkali layak dilakukan adalah membatasi penerimaan mahasiswa baru untuk ilmu kependidikan di perguruan tinggi. Langkah ini perlu ditempuh agar tidak terjadi penambahan jumlah guru secara drastis. Jika tidak dibatasi maka sangat mungkin mereka akan menganggur karena keterbatasan tempat mengajar.
Hal yang tak kalah penting, yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah memperketat persyaratan untuk menjadi guru. Untuk menjadi guru diberlakukan syarat-syarat yang tidak mudah sehingga siapapun yang lolos adalah orang yang benar-benar layak menjadi guru. Dengan seleksi ketat, tidak saja akan dapat menjawab persoalan jumlah guru di Indonesia yang berlebih, tetapi juga akan mendapatkan guru yang berkualitas.
Usaha untuk mewujudkan guru yang ideal bukan sekedar profesi tapi juga secara esensi dengan tujuan menghasilkan guru yang berkualitas, terus dilakukan pemerintah. Upaya ini diejawantahkan dengan program Profesionalisme Guru. Tetapi apakah seorang guru yang sudah disertifikasi dan mendapat julukan Guru Profesional dijamin Profesional dalam menangani siswa-siswanya?
b.      Teori tahap Perkembangan Guru (Francis Fuller,1969).
Tiga tahap yang diidentifikasi dan diamati oleh Fuller dan telah menjadi fokus penelitian pada pengembangan guru selama beberapa tahun. Penelitiannya mengidentifikasi tiga tahap-tahap progresif.
Tahap pertama disebut tahap kelangsungan hidup (The Survival Stage), saat dimana para guru berfokus pada diri mereka sendiri dan ajaran mereka. Pada tahap ini mereka menunjukkan keprihatinan tentang kemampuan interpersonal, apakah siswa seperti mereka, dan kelas kontrol. Tahap kedua, tentang tahap situasi pengajaran (Teaching Situation Stage), guru mulai fokus pada situasi pengajaran itu sendiri dan menunjukkan keprihatinan tentang ketersediaan waktu dan sumber daya dan kurangnya repertoar dari praktek-praktek mengajar efektif mereka sendiri. Akhirnya, guru menemukan cara untuk mengatasi kelangsungan hidup dan situasi pengajaran mereka; dasar-dasar beberapa aspek manajemen pembelajaran dan pengelolaan kelas menjadi rutinitas. Selama pengembangan tahap ketiga, hasil siswa dan tahap penguasaan (Student Results & Mastery Stage), bahwa guru meningkatkan kepedulian mereka untuk siswa, dan siswa belajar dan mengambil keputusan perencanaan dan pengajaran mereka.

c.       Mengembangkan Keahlian
Keahlian Guru
Terwujudnya Guru Profesional, bermula dari perspektif Keahlian Guru. Ini menjadi tujuan yang sangat penting dalam dunia dimana perubahannya adalah norma dan harapan untuk guru terus-menerus diperluas. Berikut adalah hasil penelitian Berliner (1987, 1994, 2001), dan Glaser (1987, 1990), mereka menemukan perbedaan antara apa yang bisa dilakukan Guru Ahli dan Guru Pemula:
o          Guru ahli mampu melakukan sejumlah tugas secara otomatis tanpa harus berhenti dan berpikir tentang bagaimana untuk melakukannya. Guru ahli mengelola kelas dan kelas rutin secara efisien dan efektif. Guru pemula harus berhenti dan berpikir sebelum mengambil tindakan.
o          Guru ahli memahami masalah pada tingkat yang lebih mendalam dari pemula. Guru Ahli memiliki pemahaman luas yang memungkinkan mereka untuk menerapkan prinsip-prinsip yang relevan dengan cepat. Guru pemula memiliki pemahaman dangkal bahwa perlahan-lahan akan menanggung berbagai masalah.
o          Guru ahli lebih fleksibel dalam ajaran mereka daripada pemula. Guru ahli memanfaatkan informasi baru dan dapat dengan cepat membuat penyesuaian pelajaran. Guru pemula menemukan penyesuaian diri yang sulit dan lebih mungkin untuk tetap berpegang teguh pada penempatan awal, apakah rencana ini bekerja atau tidak.
o          Guru ahli lebih percaya diri dalam kemampuan pengajarannya daripada para guru pemula. Pengalaman dan kedalaman pengalaman membuat guru ahli lebih yakin dalam tindakan-tindakan yang mereka ambil. Guru pemula sering memperlihatkan yang sementara.
o          Guru ahli membuat kesimpulan pokok informasi dari apa yang dilakukan oleh pemula. Guru ahli dapat mengabaikan atau mempengaruhi segala kejadian di kelas. Guru pemula sering memungkinkan setiap kejadian mempengaruhi atau menguasai mereka.
o          Guru ahli mampu mengenali pola kegiatan kelas dan peristiwa. Guru ahli menafsirkan isyarat dan proses secara  akurat, sedangkan pemula sering bingung dan tidak bisa merasakan apa yang terjadi.

Bersambung....(Bag 3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar