GURU Untuk
PENDIDIK TRANSFORMASIONAL ABAD 21
(Kajian
Pengembangan Profesionalisme Guru)
Oleh: Susan N H Jacobus
(Bag. 2)
Perkembangan Guru dan
Pengajaran.
a.
Sosok Guru.
Guru
(dari Sanskerta: गुरू yang berarti guru,
tetapi arti secara harfiahnya "berat") adalah seorang pengajar suatu
ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik.
Guru
adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti
ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas,
setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang
guru.
Secara
formal, guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang
memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal
berstatus sarjana, dan telah memiliki ketetapan hukum yang sah sebagai guru
berdasarkan undang-undang guru dan dosen yang berlaku di Indonesia disebut Guru
di Indonesia.
Jumlah
guru Indonesia berlebih. Saat ini, jumlah guru di Indonesia telah mencapai
angka 2,92 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu maka rasio guru dan siswa
menjadi 1:14. Berarti setiap guru hanya mengajar 14 siswa atau peserta didik.
Rasio jumlah guru di Indonesia berbeda dengan negara-negar lain. Malaysia
memiliki rasio 1:20, Jepang 1:32, Korea Selatan 1:30. Sedangkan untuk rasio
rata-rata internasional adalah 1:32. Jika membandingkan rasio guru nasional dan
international maka bisa dikatakan jumlah guru di Indonesia berlebih atau
overload. Idealnya, rasio jumlah guru dan peserta didik pada kisaran angka 1:15
dan 1:32. Angka ini mendasarkan pada rasio yang berlaku secara internasional.
Sehingga dengan rasio ideal seperti itu maka guru tidak banyak yang menganggur
atau kekurangan jam mengajar. Jumlah guru di Indonesia yang 2,92 juta orang, 900.000-nya adalah guru honorer. Dan
faktanya, sekitar 76% menumpuk di wilayah perkotaan (baik guru negeri maupun
swasta). Kondisi tersebut membawa akibat di kota kelebihan guru, sedangkan di
desa dan wilayah terpencil terjadi kekurangan guru.
Guna
menangani ketimpangan jumlah guru di Indonesia ini, pemerintah semestinya
melaksanakan program penempatan dan pemerataan guru untuk setiap wilayah.
Kebijakan yang barangkali layak dilakukan adalah membatasi penerimaan mahasiswa
baru untuk ilmu kependidikan di perguruan tinggi. Langkah ini perlu ditempuh
agar tidak terjadi penambahan jumlah guru secara drastis. Jika tidak dibatasi
maka sangat mungkin mereka akan menganggur karena keterbatasan tempat mengajar.
Hal
yang tak kalah penting, yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah memperketat
persyaratan untuk menjadi guru. Untuk menjadi guru diberlakukan syarat-syarat
yang tidak mudah sehingga siapapun yang lolos adalah orang yang benar-benar
layak menjadi guru. Dengan seleksi ketat, tidak saja akan dapat menjawab
persoalan jumlah guru di Indonesia yang berlebih, tetapi juga akan mendapatkan
guru yang berkualitas.
Usaha
untuk mewujudkan guru yang ideal bukan sekedar profesi tapi juga secara esensi
dengan tujuan menghasilkan guru yang berkualitas, terus dilakukan pemerintah.
Upaya ini diejawantahkan dengan program Profesionalisme Guru. Tetapi apakah
seorang guru yang sudah disertifikasi dan mendapat julukan Guru Profesional
dijamin Profesional dalam menangani siswa-siswanya?
b. Teori
tahap Perkembangan Guru (Francis Fuller,1969).
Tiga
tahap yang diidentifikasi dan diamati oleh Fuller dan telah menjadi fokus
penelitian pada pengembangan guru selama beberapa tahun. Penelitiannya
mengidentifikasi tiga tahap-tahap progresif.
Tahap
pertama disebut tahap kelangsungan hidup (The Survival Stage), saat dimana para
guru berfokus pada diri mereka sendiri dan ajaran mereka. Pada tahap ini mereka
menunjukkan keprihatinan tentang kemampuan interpersonal, apakah siswa seperti
mereka, dan kelas kontrol. Tahap kedua, tentang tahap situasi pengajaran
(Teaching Situation Stage), guru mulai fokus pada situasi pengajaran itu
sendiri dan menunjukkan keprihatinan tentang ketersediaan waktu dan sumber daya
dan kurangnya repertoar dari praktek-praktek mengajar efektif mereka sendiri. Akhirnya,
guru menemukan cara untuk mengatasi kelangsungan hidup dan situasi pengajaran
mereka; dasar-dasar beberapa aspek manajemen pembelajaran dan pengelolaan kelas
menjadi rutinitas. Selama pengembangan tahap ketiga, hasil siswa dan tahap
penguasaan (Student Results & Mastery Stage), bahwa guru meningkatkan
kepedulian mereka untuk siswa, dan siswa belajar dan mengambil keputusan
perencanaan dan pengajaran mereka.
c. Mengembangkan
Keahlian
Keahlian Guru
Terwujudnya
Guru Profesional, bermula dari perspektif Keahlian Guru. Ini menjadi tujuan
yang sangat penting dalam dunia dimana perubahannya adalah norma dan harapan
untuk guru terus-menerus diperluas. Berikut adalah hasil penelitian Berliner
(1987, 1994, 2001), dan Glaser (1987, 1990), mereka menemukan perbedaan antara
apa yang bisa dilakukan Guru Ahli dan Guru Pemula:
o Guru ahli mampu melakukan sejumlah
tugas secara otomatis tanpa harus berhenti dan berpikir tentang bagaimana untuk
melakukannya. Guru ahli mengelola kelas dan kelas rutin secara efisien dan
efektif. Guru pemula harus berhenti dan berpikir sebelum mengambil tindakan.
o Guru ahli memahami masalah pada
tingkat yang lebih mendalam dari pemula. Guru Ahli memiliki pemahaman luas yang
memungkinkan mereka untuk menerapkan prinsip-prinsip yang relevan dengan cepat.
Guru pemula memiliki pemahaman dangkal bahwa perlahan-lahan akan menanggung
berbagai masalah.
o Guru ahli lebih fleksibel dalam ajaran
mereka daripada pemula. Guru ahli memanfaatkan informasi baru dan dapat dengan
cepat membuat penyesuaian pelajaran. Guru pemula menemukan penyesuaian diri
yang sulit dan lebih mungkin untuk tetap berpegang teguh pada penempatan awal,
apakah rencana ini bekerja atau tidak.
o Guru ahli lebih percaya diri dalam
kemampuan pengajarannya daripada para guru pemula. Pengalaman dan kedalaman
pengalaman membuat guru ahli lebih yakin dalam tindakan-tindakan yang mereka
ambil. Guru pemula sering memperlihatkan yang sementara.
o Guru ahli membuat kesimpulan pokok
informasi dari apa yang dilakukan oleh pemula. Guru ahli dapat mengabaikan atau
mempengaruhi segala kejadian di kelas. Guru pemula sering memungkinkan setiap
kejadian mempengaruhi atau menguasai mereka.
o Guru ahli mampu mengenali pola
kegiatan kelas dan peristiwa. Guru ahli menafsirkan isyarat dan proses
secara akurat, sedangkan pemula sering
bingung dan tidak bisa merasakan apa yang terjadi.
Bersambung....(Bag 3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar