GURU Untuk PENDIDIK TRANSFORMASIONAL ABAD
21
(Kajian
Pengembangan Profesionalisme Guru)
Oleh: Susan N H
Jacobus
(Bag. 4)
GURU Untuk Pendidik Transformasional
Pada
poin ini, saya menghadirkan ide guru transformasional, sekaligus Landasan konseptual pengembangan Guru Profesional Abad 21
yang Transformasional . Guru transformasional adalah guru yang mampu untuk
memberikan perubahan menyeluruh demi tercapai tujuan pendidikan nasional.
GURU didasarkan hasil perenungan dan
kajian pustaka, termasuk hasil dari refleksi pemikiran-pemikiran besar para
tokoh pendidikan, dan teori-teori sehingga dirumuskan dalam satu kata yaitu
GURU (Giving, Unlimited, Regeneration, Uniquely) yang mewakili guru
transformasional indonesia berdasarkan kearifan lokal dan falsafah nasional.
a.
Giving:
Giving
dalam bahasa Indonesia artinya memberi. Seorang guru adalah sosok yang wajib
memberi, karena demikianlah tugas guru yang sesungguhnya. Apa yang harus diberikan guru?Memberikan
diri secara total dalam profesinya sebagai seorang guru.(Totality as a Teacher) (Passion)
Passion
yang dimaksud penulis adalah keinginan besar untuk bekerja. Menurut Rene
passion sedikit berbeda dengan hobi, “Passion bukanlah segala sesuatu yang
kuasai, namun yang kita cintai. Passion adalah salah satu unsur karir. Karir
haruslah melibatkan passion, tujuan hidup, values, ketercapaian, dan kebahagiaan.”
Seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, sehingga seorang guru harus
dapat memahami benar hakikat ia bekerja, apakah sekedar untuk memperoleh gaji
dari pemerintah atau benar-benar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Apakah
mendidik generasi bangsa merupakan “passion” atau sekedar “pekerjaan”?
Guru
harus memberi diri bukan sekedar sebagai rutinitas pekerjaan tetapi memberi
hati, tenaga dan pikirannya guna menghasilkan siswa-siwa yang tak hanya cerdas,
berhati mulia, tetapi penuh kasih sayang tanpa kekerasan dan memiliki critical mass. Guru yang memiliki passion
adalah guru yang sadar bahwa tugasnya sebagai guru bukan sebatas pekerjaan tapi
esensi guru yang sesungguhnya.
· Memberi
Teladan (Being a Model)
Guru
harus menjadi teladan bagi siswanya. Banyak kasus siswa tidak mendengarkan
nasihat guru karena siswa memperhatikan bahwa gurunya pun tidak melakukan apa
yang disampaikan pada siswa. Jika guru menginginkan siswa-siswa tidak terlambat
ke sekolah, maka guru harus menjadikan dirinya sebagai contoh, datang tepat
waktu ke sekolah, dan memulai jam pelajaran tepat waktu.
Proses
transfer keteladanan bisa berlangsung di kelas saat proses belajar mengajar.
Jika guru ingin mengajarakan siswa membaca puisi yang benar, maka guru harus
mencontohkan di depan kelas.
Apa
yang guru lakukan diperhatikan oleh siswanya. Hal ini tersirat dalam bahasa
Jawa bahwa guru digugu lan ditiru (dipatuhi dan ditiru/diikuti), dikukuhkan
oleh teori Modeling oleh Albert Bandura. Albert Bandura dan Richard Walters (
1959, 1963 ) telah melakukan eksperimen pada anak – anak yang juga berkenaan
dengan peniruan. Hasil eksperimen mereka mendapati, bahwa peniruan dapat
berlaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang yang ditiru)
meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus menerus. Proses belajar semacam
ini disebut “observational learning” atau pembelajaran melalui pengamatan.
Bandura kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial diperbaiki
memandang teori pembelajaran sosial yang sebelumnya hanya mementingkan perilaku
tanpa mempertimbangan aspek mental seseorang.
Menurut
Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri(kognitif)
dan lingkungan. pandangan ini menjelaskan, beliau telah mengemukakan teori
pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah menjalankan kajian bersama
Walter terhadap perlakuan anak-anak apabila mereka menonton orang dewasa
memukul, mengetuk dengan palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam
video. Setelah menonton video anak-anak ini diarah bermain di kamar permainan
dan terdapat patung seperti yang ditayangkan dalam video. Setelah anak-anak
tersebut melihat patung tersebut,mereka meniru aksi-aksi yang dilakukan oleh
orang yang mereka tonton dalam video.
Berdasarkan
teori ini terdapat beberapa cara peniruan yaitu meniru secara langsung.
Contohnya guru membuat demostrasi cara membuat kapal terbang kertas dan pelajar
meniru secara langsung. Seterusnya proses peniruan melalui contoh tingkah laku.
Contohnya anak-anak meniru tingkah laku bersorak dilapangan, jadi tingkah laku
bersorak merupakan contoh perilaku di lapangan. Keadaan sebaliknya jika
anak-anak bersorak di dalam kelas sewaktu guru mengajar,semestinya guru akan
memarahi dan memberi tahu tingkahlaku yang dilakukan tidak dibenarkan dalam
keadaan tersebut, jadi tingkah laku tersebut menjadi contoh perilaku dalam
situasi tersebut.
Proses
peniruan yang seterusnya ialah elisitasi. Proses ini timbul apabila seseorang
melihat perubahan pada orang lain. Contohnya seorang anak-anak melihat temannya
melukis bunga dan timbul keinginan dalam diri anak-anak tersebut untuk melukis
bunga. Oleh karena itu, peniruan berlaku apabila anak-anak tersebut melihat
temannya melukis bunga.
Berdasarkan
uraian diatas, maka saya mengambil simpulan bahwa penting untuk memberi teladan
yang baik bagi siswa sehingga mereka akan meniru dan mengikuti yang baik dari
gurunya. Oleh sebab itu guru juga punya tanggungjawab pribadi untuk menjaga
tingkah laku dan tutur katanya di depan siswa-siswanya, termasuk tidak
melakukan tindak kekerasan pada siswa, sehingga mereka juga tercegah dari
melakukan tindak kekerasan pada temannya dan lingkunganya.
· Memberi
ilmu kepada para siswa. (Transfering Knowledge to the Student)
Ini
adalah tugas guru, yaitu membagikan ilmu untuk siswa-siswanya. Ilmu yang
dikuasai guru secara teori dan praktek ditransfer ke siswa. Penting bagi guru
untuk menguasai materi secara mendalam sehingga siswa benar-benar tahu apa yang
dipelajari. Ilmu yang ditransfer guru diantaranya sains, sosial, bahasa,
budaya, nilai-nilai, moral, etika, dan seni, yang dituangkan dalam mata
pelajaran di sekolah.
Penguasaan
materi merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap guru ketika
memulai pelajaran. Guru yang ideal harus memiliki pengetahuan luar biasa
mengenai materi yang dibawanya. Pengetahuan yang cukup akan memudahkan guru
untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan siswa. Ki Hajar Dewantoro
mengatakan bahwa, pengajaran oleh guru tidak lain adalah pendidikan dengan cara
memberi ilmu atau pengetahuan, serta juga memberi kecakapan kepada anak-anak
yang keduanya berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin.
Untuk
melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, maka guru benar-benar harus
memberikan setiap ilmu yang dimilikinya, bahkan terus memperkaya diri dengan
pengetahuan baru, sehingga siswa selalu mendapatkan pengetahuan yang mendalam,
dan fresh atau pengetahuan yang relevan.
· Memberikan
Kemerdekaan bagi para siswa. (Giving Freedom for the Student)
Kemerdekaan
yang dimaksud adalah menurut Ki Hajar. Merdeka secara fisik, mental, dan
kerohanian. Kemerdekaan pribadi yang dibatasi oleh tertib damainya kehidupan
bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan,
musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin. Prinsip
dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagian,
keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam hati manusia. Karena hal inilah yang
dibutuhkan dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan,
kebaikan hati, empati, cinta kasih, dan pengharagaan terhadap masing-masing
manusia. Hal yang sama dicetuskan oleh Francois Rabelais dan Guillaune Bude
mengajarkan pendidikan kemerdekaan (kebebasan) tetapi menganjurkan untuk
melayani, mencintai, dan takut kepada Tuhan.
· Memberikan
Ketenangan Batin bagi siswa. (Giving Calmness for the Student)
Ketenangan
dan kenyamanan batin seorang siswa akan membuatnya belajar lebih baik. Hal itu
akan tercipta saat guru dengan sengaja memaksa, menekan siswa atau melakukan
kekerasan secara verbal maupun fisik. Momong, Among, Ngemong, haruslah menjadi
dasar pendidikan yang harus dimaknai dan dilakukan oleh guru. Guru harus
menjaga kehidupan batin siswa, caranya adalah dengan tidak memaksa siswa;
walaupun hanya sekedar menuntun atau memimpin hal itu kadang tidak perlu. Guru
hanya diharuskan mencampuri kehidupan si siswa, jika siswa tersebut di “jalan”
yang salah.
b.
Unlimited:
“Tanpa batas” atau Unlimited, merupakan
kata yang harus dimaknai secara mendalam oleh para guru. Seorang guru harus “Tanpa
Batas” atau Unlimited. Tanpa batas yang dimaksud adalah:
· Transfer
Kasih Sayang tanpa batas (Transforming Unlimited Affection)
Guru
yang selalu tanpa lelah, tanpa mengeluh memberi kasih sayang bagi
siswa-siswanya. Sehingga siswanya bisa tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih
sayang terhadap semua orang.
· Percaya
tanpa batas. (Unlimited Trust)
Percaya
dan yakin bahwa siswa mampu mencapai cita-citanya dan menjadi yang terbaik
sesuai bakat, minat, keunikan dan pengetahuannya. Guru percaya bahwa seorang
siswa yang nakal atau kasar bisa berubah menjadi pribadi yang menyenangkan.
Siswa yang malas bisa berubah menjadi rajin, guru harus terus mempercayai bahwa
perubahan kearah yang lebih baik selalu bisa terjadi.
· Sabar
Tanpa Batas (Unlimited Patience)
Tanpa
kesabaran, seorang guru tak akan pernah berhasil mendidik siswa-siswanya.
Tetapi kesabaran yang tanpa batas sangat diperlukan oleh seorang guru ideal.
Masing-masing siswa memiliki keunikan pridadi, guru harus menangani setiap
siswa berdasarkan keunikan mereka, butuh kesabaran tanpa batas untuk menghadapi
kepribadian mereka, karena untuk mengenali peserta didik butuh waktu yang lama,
termasuk untuk mencari formula penanganan setiap siswa.
· Transfer
Pengetahuan Tanpa Batas (Transforming Unlimited Knowledge)
Pengetahuan
yang dimiliki guru harus sepenuhnya ditransfer pada siswa-siswanya, termasuk
pengetahuan baru yang diperoleh guru. Tidak ada batasan berapa persen
pengetahuan harus yang ditransfer untuk siswa, karena pengetahuan selalu
dinamis, berkembangan sering waktu dan jaman. No Limit Study merupakan ide yang
dikemukakan Prof. Dr. Noeng Muhadjir sejak tahun 80-an. Beliau menyatakan bahwa
suatu perubahan sosial akan menjadikan pengetahuan seseorang tertinggal, oleh
sebab itu setiap orang harus belajar. Kedua potensi adikodrati bahwa otak manusia baru difungsikan 5 sampai
25 persen, sehingga upaya maksimalisasi kemampuan otak harus terus dilakukan.
Hal ini akan terus meungkinkan seorang guru akan terus dibutuhkan dan tanpa
batas mentransfer pengetahuannya bagi perserta didik.
c.
Regeneration
(Kelahiran Kembali)
Salah
satu tugas guru adalah menghasilkan generasi-generasi yang unggul secara
akademik, keahlian, peka terhadap lingkungan, mampu memberi solusi bagi masalah
pribadi maupun masalah di lingkungannya. Generasi yang dilahirkan dari seorang
guru yang tranformasional akan melahirkan generasi-generasi seperti mereka
begitu seterusnya. Bagaimana mewujudkan hal-hal tersebut?
· Altruism
Suatu
sikap hidup yang lebih memetingkan kebahagian dan kesejahteraan orang lain, daripada kesejahteraan diri sendiri, hal ini dikemukakan oleh Prof. Dr. Noeng
Muhadjir. Menurutnya alturisme adalah hasil dari berkembangnya rasa bahagia
karena mampu membahagiakan orang lain, tanpa mengabaikan kebahagian diri
sendiri. Sikap hidup Alturisme harus dimiliki guru untuk melahirkan generasi
baru yang tidak mementingkan diri sendiri.
· Creative
Akhir-akhir
ini istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan. Sering pula,
ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas, baik pada anak didik, pegawai
negeri, maupun pada mereka yang berwiraswasta.
Apa
sebetulnya kreativitas? Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk
baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja
gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya.
Misalnya orang yang pertama kali menemukan sepatu roda sebagai gabungan dari
sepatu dan roda juga termasuk orang yang kreatif. Jadi disini kreativitas
adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru, atau melihat
hubungan-hubungan baru antar unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada
sebelumnya. Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara
hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak
hubungannya.
Seorang
anak kecil asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna
yang bermacam-macam setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru
bagi dirinya, karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal semacam itu. Anak
ini adalah anak yang kreatif, berbeda dengan seorang anak yang hanya membangun
sesuatu jika ada contohnya. Seorang ibu rumah tangga yang setiap kali dapat
membuat kejutan bagi suami dan anak-ankanya dengan menghidangkan masakan yang
merupakan resep baru hasil kreasinya sendiri, yaitu dengan cara membuat
kombinasi baru dari bumbu-bumbu dapur, termasuk orang yang kreatif dalam
bidangnya.
Demikian
pula, seorang siswa SMA atas dasar bahan-bahan pelajaran yang diperolehnya pada
mata pelajaran kimia, melakukan ekperimen di rumah dengan mencoba macam-macam
variasi dalam pembuatan sabun mandi, variasi dalam bentuk, warna, aroma, atau
komposisi bahan yang digunakan. Ia adalah siswa yang kreatif. Seorang siswa SMP
dalam pelajaran bahasa Indonesia mampu membuat suatu karangan dengan judul yang
diberikan oleh guru “Saya pada tahun 2000.” Karangan itu mencerminkan daya
imajinasi yang hidup, dan gaya bahasanya berbeda dengan apa yang biasanya
dibuat oleh siswa-siswa lain. Ia adalah siswa kreatif.
Jelaslah
kreativitas dapat muncul dalam semua bidang kegiatan manusia, tidak terbatas
dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, atau teknologi serta tidak terbatas pula
pada tingkat usia, jenis kelamin, suku, bangsa, atau kebudayaan tertentu. Sampai
saat ini perhatian kita terutama tertuju pada kreativitas sebagai suatu produk
dari hasil pemikiran atau perilaku manusia. Kreativitas dapat pula kita lihat
sebagai suatu proses dan mungkin inilah yang lebih esensial dan yang perlu
dibina pada anak didik sejak dini untuk
bersibuk diri secara kreatif.
Kreativitas
sebagai suatu proses memikirkan berbagai gagasan, dalam menghadapi suatu
persoalan atau masalah, sebagai proses “bermain” dengan gagasan-gagasan atau
unsur-unsur dalam pikiran, merupakan keasyikan yang menyenangkan dan penuh
tantangan bagi siswa yang kreatif. Kreativitas dalam hal ini merupakan proses
berpikir dimana siswa berusaha untuk menemukan hubungan-hubungan baru, mendapatkan
jawaban, metoda atau cara baru dalam memecahkan suatu masalah. Bagi pendidikan
yang terpenting bukanlah apa yang dihasilkan dari proses tersebut, tetapi
keasyikan dan kesenangan siswa terlibat dalam proses ini.
Dalam
situasi pendidikan, hendaknya tidak selalu hanya ditekankan produk yang
dihasilkan. Proses bersibuk diri secara kreatif perlu juga mendapat penghargaan
dari pendidik. Kita tidak perlu selalu mengharapkan produk-produk yang berguna
dari kegiatan kreatifnya. Yang perlu dirangsang dan dipupuk adalah sikap dan
minat untuk melibatkan diri dalam kegiatan kreatif.
Jika
sikap minat ini sudah dipupuk sejak dini (sikap ingin tahu, minat untuk
menyelidiki lingkungan atau bidang-bidang baru, dorongan untuk melakukan
eksperimen, perasaan tertantang untuk menangani masalah-masalah yang rumit, dan
untuk menemukan banyak kemungkinan pemecahan masalah), maka sikap mental ini
akan dibawa terus sampai dewasa. Sikap mental ini akan menghasilkan ilmuwan,
teknokrat, atau wiraswastawan yang mampu membangun baik diri sendiri maupun
masyarakat dan negaranya.
Guru
yang kreatif akan menjadikan siswa-siswanya kreatif. Sudah seharusnya
kreatifitas menjadi hal penting yang wajib dimiliki seorang guru karena di era
ini kreatifitas bukan lagi sebagai pilihan tetapi keharusan.
d.
Uniquely
Menurut
kamus bahasa indonesia, Unik adalah tersendiri bentuk atau jenisnya; lain
daripada yang lain dan tidak ada persamaan dengan yang lain. Jadi unik dapat
dikatan sebagai sesuatu yang sangat spesial dan jarang dijumpai. Keunikan
tersebut bisa berupa sifat, kekhususan, kekhansan, karakteristrik, maupun
kesendirian.
Pada
prinsipnya semua manusia adalah unik, demikian juga seorang guru. Setiap guru
memiliki keunikan entah sifat, karakter, kemampuan, dan lain sebagainya. Harus
diperhatikan bahwa keunikan masing-masing guru diharapkan membawa dampak
positif (Positive Impact) bagi peserta didiknya. Menyadari bahwa guru adalah
makhluk yang unik maka guru juga sepatutnya memperlakukan siswa-siswa
berdasarkan keunikan masing-masing.
Seorang
guru yang mengaplikasikan esensi GURU (Giving, Unlimited, Regeneration,
Uniquely) diharapkan menjadi guru transformasional. Guru yang membawa perubahan
bagi pendidikan di Indonesia, dan mencetak generasi abad 21 yang punya
keahlian, peka terhadap lingkungan, cerdas, tidak melakukan kekerasan,
berkarakter dan berintergritas dan mampu menjawab tantangan dimasa depan. Suatu
hal yang paling penting adalah guru bukan lagi menjadi musuh para siswa tetapi
menjadi sumber inspirasi hidup siswa-siswanya.
DAFTAR
PUSTAKA
Arends, R, Kilcher, A.
2010. Teaching for Stedent Learning.
New York: Routledge
Berry, B. 2011. Teaching 2030. New York:Teacher Collage
Press.
Becker, J. F., 1989. Getting To Know You Inner Child.
Journal Human Development, 7,5-9
Boyd, W. 1959. The History Of Western Education.
London: Adam&Charles Black.
Dewantara,
K. H. 2013. Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan,
Sikap Merdeka Pendidikan. Yogyakarta: UST Tamansiswa.
Harahap,R.F.
21 November 2013. Jumlah Guru
Berkualitas Masih Rendah. Diambil tanggal 11 Januari 2014 dari,
http://kampus.okezone.com/read/2013/11/21/560/900607/jumlah-guru-berkualitas-masih-rendah.
Muhadjir, H. N. 2013. Psikologi Positif. Yogyakarta: Rake
Sarasin.
Muhadjir, H. N. 2003. Ilmu Pendidikan Dan Perubahan Sosial.
Yogyakarta: Rake Sarasin.
Murray,
J.2014. Designing and Implementing
Effective Professional Learning. Singapore: Sage
Semiawan,
C, Munandar A. S., & Munandar, S. C. U. 1987. Memupuk Bakat Dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah.
Jakarta:Gramedia
Williams, K. C. 2009. Elementary Classroom Management.
USA:Sage
http://artikata.com/arti-355880-unik.html
http://pendidikan-full.blogspot.com/2013/12/ternyata-jumlah-guru-indonesia-berlebih.html
http://online-journal.unja.ac.id/index.php/humaniora/article/view/216
http://www.teachingquality.org/content/teaching-2030-what-we-must-do-our-students-and-our-public-schools%E2%80%A6now-and-future
http://makassar.tribunnews.com/2012/11/28/guru-psk-menghadapi-tahun-2030
--------------------------------------SELESAI--------------------------------------------